Komisi Informasi Jabar Gelar Pelatihan Public Speaking untuk Tingkatkan Kapasitas SDM

Bandung – Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program “Belajar Public Speaking Praktis” pada Rabu (4/3/2026) di Kantor Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh para asisten serta mahasiswa magang yang berada di lingkungan Komisi Informasi Jawa Barat.  

Pelatihan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam mendukung tugas Komisi Informasi, khususnya dalam melakukan diseminasi literasi dan edukasi keterbukaan informasi publik kepada masyarakat.

Acara dibuka oleh Komisioner Komisi Informasi Jawa Barat, Dr. Erwin Kustiman. Dalam sambutannya Erwin menyampaikan bahwa kemampuan komunikasi publik merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh setiap sumber daya manusia di lingkungan Komisi Informasi.

Menurutnya, keberhasilan program edukasi keterbukaan informasi publik tidak hanya ditentukan oleh isi pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan pesan tersebut secara efektif kepada masyarakat.

“Public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum, tetapi bagaimana kita mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, percaya diri, serta mampu membangun hubungan dengan audiens. Kemampuan ini penting bagi SDM Komisi Informasi dalam menjalankan fungsi edukasi keterbukaan informasi kepada masyarakat,” ujar Erwin.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kapasitas SDM perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas pelayanan informasi publik semakin profesional dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Kegiatan pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang merupakan praktisi komunikasi, yaitu Neneng Athiatul Faiziyah, M.I.Kom dan Neirna Yayah Daryati, S.Ag, M.Sos, yang berbagi pengalaman serta teknik praktis dalam berbicara di depan publik.  

Dalam pemaparannya, Neneng Athiatul Faiziyah menjelaskan bahwa public speaking bukan hanya tentang keberanian berbicara di depan banyak orang, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas, meyakinkan, serta mampu memberikan pengaruh positif kepada audiens.

“Public speaking itu penting karena bukan hanya soal berani berbicara di depan orang banyak, tetapi bagaimana ide dan pesan yang kita sampaikan dapat dipahami, dirasakan, bahkan memberi dampak bagi audiens,” ungkap Neneng.  

Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa kunci penting dalam public speaking, di antaranya memulai dengan doa agar diberikan kelancaran, memahami susunan acara atau struktur materi yang akan disampaikan, melakukan latihan sebelum tampil, serta menyiapkan catatan poin penting sebagai panduan ketika berbicara di depan publik.  

Selain itu, Neneng juga menekankan pentingnya grooming atau penampilan saat berbicara di depan publik. Menurutnya, komunikasi yang baik tidak hanya harus jelas didengar, tetapi juga harus terlihat rapi, percaya diri, dan menarik sehingga audiens lebih nyaman mengikuti penyampaian materi.

Dalam sesi pelatihan tersebut, peserta juga diajak memahami berbagai kendala yang sering muncul dalam public speaking, seperti rasa gugup, kurang percaya diri, hingga ketakutan akan penilaian audiens. Neneng menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dialami oleh siapa pun.

“Grogi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola rasa gugup tersebut dengan persiapan yang matang, latihan yang cukup, serta membangun pikiran positif sebelum tampil,” jelasnya.  

Ia juga membagikan berbagai teknik untuk meningkatkan kepercayaan diri, seperti melakukan visualisasi positif, menarik napas secara rileks sebelum berbicara, serta terus melatih kemampuan berbicara agar jam terbang semakin meningkat.

Selain itu, Neneng menekankan pentingnya kemampuan engaging the audience, yaitu bagaimana seorang pembicara mampu melibatkan audiens secara aktif agar tidak hanya mendengar secara pasif tetapi juga merasa terhubung dengan materi yang disampaikan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui cerita atau ilustrasi, pertanyaan kepada audiens, kontak mata, serta variasi intonasi dan ekspresi saat berbicara.  

Sementara itu, narasumber kedua Neirna Yayah Daryati, M.Ag menambahkan bahwa dalam kegiatan public speaking, khususnya ketika menjadi pembawa acara atau moderator dalam kegiatan resmi, pemahaman mengenai protokoler acara juga sangat penting.

Menurutnya, seorang MC harus memahami alur acara, susunan kegiatan, serta mengetahui siapa saja pihak yang harus dipersilakan terlebih dahulu agar acara dapat berjalan tertib dan profesional.

“Seorang MC atau pembicara harus memahami protokoler acara, mulai dari urutan kegiatan hingga siapa yang harus dipersilakan terlebih dahulu. Dengan memahami hal tersebut, jalannya acara akan lebih tertata dan profesional,” jelas Neirna.

Ia juga menekankan bahwa rasa percaya diri merupakan kunci utama dalam public speaking.

“Ketika tampil di depan publik, kita harus percaya diri dan tidak perlu takut melakukan kesalahan. Semua orang belajar melalui proses. Justru dari pengalaman tersebut kemampuan kita akan terus berkembang,” ujarnya.

Selain penyampaian materi, kegiatan pelatihan ini juga diisi dengan sesi praktik langsung bagi para peserta untuk mencoba teknik berbicara di depan publik, mulai dari latihan intonasi suara, artikulasi, hingga penggunaan bahasa tubuh yang efektif dalam menyampaikan pesan.

Melalui kegiatan ini, Komisi Informasi Jawa Barat berharap para peserta dapat meningkatkan kemampuan komunikasi publik yang nantinya dapat mendukung berbagai kegiatan edukasi dan diseminasi keterbukaan informasi kepada masyarakat.

Ke depan, Komisi Informasi Jawa Barat akan terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya keterbukaan informasi publik serta meningkatkan kualitas pelayanan informasi kepada badan publik dan masyarakat di Jawa Barat. (AYP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles ―